Mengingat Kisah Sederhana yang Indah

Belakangan ini saya sedang merasa bahwa bahasa Indonesia saya sungguhlah payah, terutama ketika menulis. Menulis sekedarnya saja tentu bisa. Tapi semenjak (terlambat memang, maafkan ya) membaca dengan tekun para penulis seperti Ahmad Tohari dan Pramoedya Ananta Toer dan Sapardi Djoko Damono dan Dewi Lestari, malulah saya dengan kemampuan berbahasa yang ternyata kadarnya hanya pas untuk berbincang dengan teman saja. Kemudian saya bertekad untuk mengasah kemampuan yang satu ini, sekaligus berniat mengisi kembali blog lama yang debunya sudah setebal novel para pujangga handal itu.

Masih di kurun waktu yang sama, seorang teman mengabarkan bahwa Ari Reda akan meluncurkan album yang kedua. Tetangga Pak Gesang menjadi pembukanya. Dan Jubing Kristianto juga akan ikut bermain. Saya tahu betul bahwa Ari Reda lekat dengan puisi Pak Sapardi yang tutur bahasa Indonesianya sulit ditandingi. Maka saya anggap ini pertanda (tentunya!), dan langsung mencari tiketnya untuk siap bermain dengan kata dan bahasa.

Pada hari pertunjukan, duduklah saya dan tiga orang teman di baris kedua dari depan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Sepanjang perjalanan dari kantor di Lebak Bulus, saya sebenarnya membayangkan tahu gimbal RM Semarang yang harus disantap sebelum mulai bermusik. Namun ini hanyalah Jakarta. Yang ada saya malah terlambat sekitar dua menit, dimana Arum dan Meicy sudah di atas panggung dengan gaun polkadot mereka.

Lagu pertama saya lupa judulnya. Yang saya ingat, saya langsung kagum dengan alat musik kazoo yang dimainkan Meicy. Sepertinya baru pertama saya mengetahuinya. Alat musik ini kecil saja, mungkin hanya sebesar satu bungkus permen polo. Kazoo ditiup tanpa ada banyak lubang untuk membuat nada seperti layaknya seruling atau terompet. Sang peniup harus bernyanyi ketika meniup.

Tetangga Pak Gesang

Tetangga Pak Gesang

Meicy memainkan kazoo dengan sangat baik. Entahlah bagaimana cara seseorang meniup sambil bernyanyi, tapi Meicy melakukannya dengan baik betul. Membuat saya senang berkenalan dengan satu alat musik baru. Teman duetnya, Arum, bermain ukulele. Saya baru tahu, rupanya ukulele berjodoh pas sekali dengan kazoo.

Setelah empat lagu, tiba giliran sang tokoh utama. Ari dan Reda duduk di panggung dengan baju bernuansa biru dengan muka sumringah. Sepertinya Reda tidak bisa berhenti tersenyum. Walau sudah 33 tahun menyanyi bersama, ternyata ini baru album kedua mereka. Rupanya eksistensi musik memang tidak perlu tertuang hanya melalui album.

Lagu pertama, saya juga tidak bisa ingat judulnya. Biasanya kalau nonton pertunjukan musik, saya membuat catatan kecil sebagai bahan jika kemudian ingin berbagi ceritanya di media sosial. Namun kali ini tidak. Satu mungkin karena saya lapar dan belum makan malam. Dua, dan ini yang sepertinya lebih mungkin, tiba-tiba ada rasa kangen yang tertebus ketika Ari mulai memetik gitar dan Reda mulai bernyanyi. Sehingga saya malas melakukan hal lain selain menikmati musik dan senyum-senyum sendiri.

Ari Reda

Ari Reda, jagonya kesederhanaan

Sungguh aneh perasaan saat itu. Saya tidak terlalu merasa penggemar berat Ari Reda. Tapi musikalisasi yang sederhana sambil membawakan bait puisi pilihan ternyata begitu mudah membuat saya mengingat hal-hal yang menyenangkan. Kopi di pagi hari. Liburan dengan langit biru. Keberhasilan membuat resep kue. Mungkin setara seperti itu lah rasanya. Sungguh tidak bisa berhenti saya senyum-senyum sendiri sambil mulai nyender. Dan tentunya sambil mengagumi suara Reda yang renyah seperti kerupuk yang digoreng sempurna.

Satu puisi Pak Sapardi yang saya paling suka, Kuhentikan Hujan, dimainkan juga oleh Ari Reda.

Kuhentikan hujan
Kini matahari merindukanku
Mengangkat kabut pagi perlahan
Ada yang berdenyut di dalam diriku
Menembus tanah basah
Dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari
Tak bisa ku tolak matahari
Memaksaku menciptakan bunga-bunga

Buat saya, panggung Ari Reda agak buram ketika puisi ini dimainkan. Sayang sekali lagu satu ini tidak ada di album mereka.

Sapardi Djoko Damono dan AriReda

Sapardi Djoko Damono, sumber inspirasi Ari Reda

Malam semakin istimewa karena Pak Sapardi membacakan dua puisinya. Yang pertama adalah Tentang Mahasiswa Yang Mati, lalu dilanjutkan dengan Dongeng Marsinah yang ternyata dibuat sampai tiga tahun karena bapak marah sekali dengan peristiwa itu.

Ternyata Pak Sapardi gemar bergurau. Dengan topi petnya dan tongkat yang dititipkan ke Reda, Pak Sapardi selalu menyeletuk lucu sambil mengantarkan dua puisinya yang cukup emosionil itu. Saya pikir bapak akan membawakan puisi yang sendu. Tapi malah puisi seperti itu. Semakin berantakanlah perasaan saya malam itu, diombang-ambingkan oleh puisi si bapak.

Jubing dan AriREda

Jubing Kristianto

Jubing ikut mengiringi Ari Reda di beberapa lagu. Namun tentunya ada juga sesi solo Jubing memainkan lagu Naik-Naik ke Puncak Gunung dan Hujan Fantasi. Pemusik satu ini memang piawai sekali dalam bergitar.

Malam itu Ari Reda membawakan banyak lagu. Sekitar 25 mungkin. Puas sekali saya dibuatnya. Pertunjukan ditutup dengan lagu Aku Ingin. Ya, Aku ingin Mencintaimu dengan Sederhana. Puisi yang demikian romantis sehingga frekuensi munculnya di surat undangan pernikahanpun bersaing ketat dengan ayat kitab suci.

Begitu konser usai, langsung saya beli kedua albumnya di meja depan. Ingin berfoto dengan Pak Sapardi dan Ari Reda, tapi malu. Sebagai gantinya, saya nyatakan saja kekaguman saya disini. Terimakasih sudah menciptakan kisah kesederhanaan yang indah– dan menginspirasi saya untuk mulai menulis kembali.

Advertisements