Sunrise di Borobudur

Sejak jalan bareng mas Niko, saya merasa lebih mengapresiasi hidup. Hehe. Mungkin terdengar berlebihan ya, tapi ini sungguhan. Saya jadi punya alasan untuk jalan jauh, mendaki bukit, menyelinap di keramaian, menguras tabungan, lebih hati-hati karena takut membuat Mas Niko sakit, sampai bangun super pagi. Seperti perjalanan saya terakhir.

Diantara official trip ke Jogjakarta awal April 2009 yang lalu, saya berniat untuk mblasak mblusuk Jogjakarta dan melihat La Solida de Sol, alias Sunrise di Borobudur. Berbagai persiapan langsung digeber selama beberapa hari terakhir supaya pas disana saya tinggal tarik jabrik aja.

Akhir kisah, musuh Mas Niko, sang cuaca, masih lebih menang. Iyah, cuaca di Jogja nggak ramah banget waktu itu. Selama dua sore saya hanya gigit jari di salah satu selasar toko di Malioboro nunggu hujan reda demi rencana menyusuri Malioboro sampai ke Taman Sari dan Pasar Burung itu. Semua gagal total karena sampai langit gelap hujan nggak ada niat untuk berhenti. Well, tips aja buat yang mau melakukan hal yang sama, ada peta wisata gratis Jogja yang bisa kamu dapatkan di Mirota Batik Malioboro. Dibaliknya juga ada silsilah kerajaan Jogjakarta mulai dari HB I sampai terakhir, lengkap dengan nama keturunan dari istri asli maupun the selirs. Jadi kalau butuh inspirasi perjalanan di Jogja sekaligus nama-nama Jawa nan ningrat, silahkah ambil dan lipat satu peta di saku.

Nah lalu, rencana kedua. Untuk melihat sepotong matahari bundar di pagi hari di Borobudur, ternyata ongkosnya tidak sedikit. Ada dua view untuk melihat sunrise di Borobudur. Yang pertama adalah view dari atas bukit, sehingga Borobudur terlihat dari jauh dan angle-nya wide alias Borobudur kelihatan semua pojoknya. Untuk view ini, kita bisa nginep di Hotel Aman Jiwo (rate paling murah untuk domestik sekitar USD 500 dan untuk foreigner sekitar USD 900, untuk info aja, paling mahal harganya USD 2,800 :D. Kamarnya emang ciamik, but I’d rather go to Maldives than to spend this amount) atau yang lebih seru lagi, nginep di salah satu desa yang ada di perbukitan itu. Nah secara gue sendirian, gue rada enggan dengan opsi menginap sendirian di desa karena ketidakpastian informasinya. Well, sebenernya, gue cuma perlu nomer kontak salah seorang di desa itu atau direct recommender aja, maka tinggal di desa itu akan jadi opsi utama gue.

Akhirnya gue memilih view yang kedua, melihat sunrise di Borobudur dari dalam kompleks Borobudurnya. Tahukah kamu? Harga normal untuk masuk Borobudur adalah sekitar 10,000 Rupiah saja untuk domestik. Sementara untuk melihat sunrise di Borobudur, yang notabene hanya sekitar dua jam earlier dari jam buka Borobudur yang resmi, harganya langsung melonjak jadi 200,000 Rupiah sahaja untuk domestik yang tidak menginap di Hotel Manohara, 150,000 untuk domestik yang menginap di Hotel Manohara, dan 300,000 Rupiah untuk para tamu mancanegara. Itu untuk biaya bangun lebih pagi para penjaganya, sepotong senter, beberapa lembar fact sheet Borobudur, dan what-so-called-breakfast-yang-ternyata-hanyalah-kopi-instan-plus-satu-buah-pisang-goreng-keju. Selain itu, pintu masuk khusus sunrise di Borobudur, dimonopoli dipegang secara khusus oleh Hotel Manohara (0293-788131). Rate di hotel ini lebih friendly dibandingkan rate Aman Jiwo, tapi belum friendly untuk kantong backpacker saya. Sekitar USD 50 lah. Yang jelas, inilah satu-satunya opsi untuk lihat sunrise di Borobudur sampai April 2009 ini. Semoga nanti ada opsi lain yang lebih moderate.

Lalu sekarang, how to get there? Di Jogjakarta, gue menginap di daerah Prawirotaman, sebuah daerah backpacker yang nyatanya jam 9 malam sudah sepi. Tapi mayan enak lah, tenang, banyak makanan. Ada Mie Jogja enak banget didepan pasar itu kalau malam, namanya Harjo Geno. Buset deh enaknya. Anyway, gue menghubungi Viavia (0274 386 557), sebuah tempat nongkrong yang enak dan moderate, juga penyedia banyak program trip seru. Menyewalah gue sebuah motor berikut pengendaranya untuk trip pagi Jogjakarta – Borobudur, dan biaya sewa adalah Rp. 125,000,- all in, biaya driver, bensin, biaya nunggu, dsb. Gue dijemput di hotel jam 3.30 tepat, yang mengemudi namanya Mas Bowo, sangat baik dan ramah. Mas Bowo juga sempat bercerita, dia pernah ikut menyelinap masuk Borobudur sebelum jam buka resmi. Walhasil, ia ketahuan sama satpam Manohara/Borobudur dan dikerek sebagai intruder pake pick up putar-putar Borobudur. Sanksi sosial yang cukup seru 🙂 Tapi ternyata Mas Bowo sudah cukup akrab sama para waiter di Manohara, jadi dia bisa menemani gue sarapan jatahan itu.

Satu hal yang gue nggak suka dari trip itu adalah pandangan mata dari satpam Manohara ketika gue datang. Manohara itu hotel yang masuk dalam kompleks Borobudur. Begitu sampai gerbang jam 4.30 pagi hari, seorang perempuan domestik dan naik motor, satpam langsung bertanya, dengan tidak kurang ramah,
Satpam: ‘Mau kemana?’.
Gue: ‘Mau lihat Sunrise.’
Satpam: ‘Sudah tahu belum bayar berapa?’
Gue: ‘Sudah tahu, saya sudah booking dan telepon.’
Satpam: ‘Dua Ratus Ribu, lho.’
Gila ya?, gue sih jawab aja. ‘Nggak masalah, saya bisa bayar.’
Yah begitulah kita, suka underestimate turis dari negeri sendiri.

Anyway, sang cuaca masih berperan di trip gue ini. Memang gue gak dapet sunrise seperti yang gue bayangkan. Tapi suasana Borobudur pagi hari yang tenang, berkabut diantara birunya langit dan hijaunya pohon-pohon rindang, stupa-stupa yang cantik, semuanya emang nggak bisa dinilai sama angka. Oh ya, nyebelinnya juga. Mereka nggak matiin lampu tamannya. Jadi di fotonya ada titik-titik putih yang cukup mengganggu. Here are some of my perspectives. Hope you get the same atmosphere as me 🙂

edit borobudur 1

Borobudur edit 4

Borobudur edit 2 comp

Borobudur edit 3 comp

Borobudur edit 5 comp

Borobudur edit 6

Advertisements