Dear God
Beberapa hari lalu saya nonton film Tanda Tanya. Saya sudah lupa sebenarnya ada adegan apa saja disitu karena filmnya agak maksa, tapi satu hal yang mengganggu sampai sekarang adalah tiba-tiba pengen tanya sama Tuhan, ‘Tuhan, emang saya lagi nakal ya?’
Beberapa minggu belakangan ini emang bukan my best days. Entah kenapa emosi lagi goyah bener dengan pertanyaan yang selalu mirip untuk beberapa kasus. ‘Kenapa saya?’ atau ‘Kenapa bukan saya?’. Kirain ini hanya akan jadi pertanyaan yang muncul karena hormonal bulanan – terimakasih kepada sang estrogen – tapi ternyata ninggalnya lumayan lama. Kirain ini akan kelar ketika hidup sudah berjalan normal lagi, katarsis karaoke gila-gilaan, sudah ketawa ketiwi bikin agenda sana sini, ikut kursus sana sini, makan bisa enak lagi, bisa nonton dvd lagi, bisa belanja lagi. Kirain selesai ketika nemu object of affection dan object of anger. Tapi masih nyangkut. Pertanyaannya jadi lebih egois lagi. ‘Kenapa dia?’
Ketika datang malam dengan banyak pertanyaan, baik sedang sendiri maupun lagi rame, saya bingung harus tanya ke siapa. Saya nggak tahu juga apakah ada jawabannya. Saya nggak yakin saya puas dengan jawaban – dan harapan – apapun yang diberikan oleh setidaknya setengah lusin teman yang saya curhatin. Pengen banget ngobrol sama Tuhan.
Jadi, Tuhan, Kamu lagi ngapain? Marah gak sih sama saya? I think I’m being very very nice girl seperti yang diajarkan di Pancasila dan berbagai Rukun lainnya loh. Well, saya masih suka download lagu sih, tapi selain itu kayanya saya cukup patuh. Apa karena saya terlalu patuh jadi saya kurang usaha? Tapi sampai mana batasnya? I think I’ve push myself to the fuckin whatever limit that is existing, I even broke some of my borders, but why can’t I have the chance? If I can’t have the chance because I will have greater chance, then why can’t I cope with it?Will I really have a greater chance?
Lalu juga, kata orang banyak kalau punya mimpi, harus selalu dipegang dan diingat biar kejadian, lalu apapun yang kita punya diinvestasikan kesitu. Termasuk waktu dan hati. Katanya, gak boleh takut bermimpi, karena ia yang akan mengarahkan kita ke tujuan hidup. And I do have tujuan hidup. Lalu ketika these beautiful time-and-heart-invested dreams were shattered, is that part of Your plan? What plan actually? When this stage is coming, it is not the rejection that hurt, but the fact that the imagination should be turned off. Why should I be the one who bear this? Is it the end or will there be more unpleasant surprises?
Mungkin sekarang tiba saatnya untuk ikhlas yah, Tuhan? Melepaskan kelekatan. Kata yang cukup basi, tapi ternyata susah juga diterapkan. Anyway, pas banget kemarin dapat selentingan doa ketika lagi ngobrol sama mbak Nin yang berdoa hal yang sama ketika umroh. Surat Al-Faathir ayat 2: ‘Whatsoever of mercy Allah may grant unto mankind none there is to withhold it; and whatsoever He may with hold none there is to release it thereafter. And He is the Mighty, the Wise.‘
So, I’m letting you go. And you too.
Tuhan, temenin yah.


Halow duduy…kumaha damang??
Nice blog..foto-fotonya juga bagus-bagus euy..mantabss!!
hey kang Fery, kok kelewat baca komennya? Haha. Kabar baiiikkk
Terimakasih udah mampirr. Maap garing. Haha. Tempat curhat boo
Some people say that good things take time and I hope your turn is about to come. Keep dreaming! ^^