Suka lihat film? Sinetron? Sepertinya di film luar juga suka ada deh. Entah untuk tujuan mempersingkat durasi dialog atau karena memang masih belum tahu seluruh tempat shooting, jika ada yang mau janjian ketemu, mereka selalu bilang, ‘Kita ketemu ya di tempat biasa.’ Baik adegan anak-anak muda yang mau berkumpul, pasangan berumur yang selingkuh, sampai adegan Pak Haji dan anak-anak buahnya. Semua selalu punya tempat biasa. Dan itu salah satu cita-cita gue sedari dulu, punya tempat biasa.

Mari kita analisis kesulitan mencari tempat biasa ini dari gue dan teman-teman main gue sekarang ini.

Ketika pertama kali ide tentang tempat biasa ini muncul, kita sering banget nongkrong di Oh La La Thamrin. Pertama adalah karena 24 jam, dan tempatnya cukup reachable, dan kopinya lebih murah daripada starbucks. Banyak kejadian di Oh La La Thamrin itu. Gue pernah melihat mantan gebetan gue datang dengan pacar (atau salah satu) nya. Salah satu teman baik kita entah kenapa jadi berubah juga transisinya di Oh La La situ. Sofa Oh La La jadi saksi beberapa dari kami nangis, dan nangis, dan nangis lagi. Tentu lebih sering lihat kita ketawa ketawa gak penting, lah. Setelah sebelumnya belanja di Lotus atau berburu Teva untuk dijual lagi. Kita suka nongkrong disitu regardless the timeframe.

Pernah tanpa kita sadari, hari itu adalah Valentine. Oh La La penuh luar biasa waktu itu. Semua orang dandan cakep-cakep wangi wangi, and here we are. Bunch of girls dengan laptop yang lagi dikejar deadline. Sambil ngetik-ngetik (dengan deadline kerjaan/gosipan masing-masing) semua protes, ‘Kenapa sih rame banget?’, ‘Kok pada pake pink sih?’ Yah memang, kita kurang sensitif kalo urusan begini-begini. (Dalih bilang most of us are single ;) )

Kemudian we’re getting tired of Oh La La. Dibelakang Oh La La sempat keluar Daily Bread. Personally, gue lebih suka kopi Daily Bread. Lagian kopi Oh La La emang tambah lama tambah aneh. Encer banget nggak berasa apa-apa. Jadilah kami pindah ke Daily Bread. Ada mas-mas chubby yang manis yang tampaknya mulai akrab. Setiap datang, dia selalu senyumnya lebar dan manis. Begitu dateng kami langsung meluncur ke sofa yang jumlahnya nggak seberapa itu. Daily bread ini sempat jadi tempat biasa kami juga. Kejadian yang paling gue inget adalah diramal sama teman peramal jitu kita yang paling susah ditemui ketika kita lagi perlu-perlunya diramal, Sari. Malam itu sempat banyak perubahan juga diantara teman-teman gue ini. Ada yang endingnya jadi reconcile sama keluarganya. Menyenangkan ;)

Lalu entah kenapa, Thamrin jadi nggak cocok jadi tempat biasa. Kita jarang banget kesana. Lalu kita terdampar di beberapa tempat biasa. Ada wwwok kemang (karena ada bubur ketan hitam dan semua teman gue penggila Mac itu bisa berasa berada didunia mereka), bakoel koffie (lebih seringan kedai ropita –roti pisang tape- didepannya sih), kafe amor (makanannya kurang menyenangkan, tapi), Anomali, dan mana lagi ya?

Kalau nggak salah, sejak Senayan City dibuka dan teman gue si pedagang punya toko di daerah tersebut, dan itu dekat juga dengan kantor gue, jadilah, Senayan City si tempat biasa selanjutnya. Tapi ini masih agak sulit juga, karena Senayan City begitu luas. Pernah gue janjian sama teman gue dan dia berkata, ‘Starbucks yang biasa ya.’ Di otak gue Starbucks yang biasa adalah yang dibawah, deket Pizza Marzanno. Karena disitu banyak colokan, tempatnya lebih tenang, dan lampunya lebih nyaman. Ternyata yang temen gue maksud adalah Starbucks yang dilantai dua, yang begitu open bisa dilihat dan melihat kemana-mana. Haduh. Beda standar.

Kelemahan lain, Senayan City tidak tutup lama. Sementara being miss deadlines, kami sering sekali stay up late untuk nongkrong sembari mengetik deadline itu. Jadilah kami perlu si 24 jam, dan terutama berinternet. Jadilah McDonald Kemang jadi rebutan. So far, ini adalah achievements terbesar kita. Sering banget nongkrong disini. Kopi dan tehnya reachable, dan tehnya bisa refill. Haha. Lalu tempatnya luas. Banyak colokan. Sayang internet gretongannya hidup segan mati tak mau. Temen gue bahkan ada yang sampe apal jadwal di McD sini. Katanya kalo udah menjelang subuh, suka dateng cewek-cewek berkemben atau pakaian super seksi lainnya sambil ketawa ketiwi ceriwis. Kami masih meragukan informasinya ini. Gue rasa temen gue nih berhalusinasi karena kebanyakan kerja.

Sekarang-sekarang ini, udah lama juga kita nggak ke McD. Jadilah McD bukan tempat biasa lagi. Walau kadang tempat biasa ini mulai mengerucut, kalo gue telpon salah satu temen gue dan bilang ‘Ketemu di tempat biasa ya’, pasti mereka tetep nanya, ‘Maksud lo dimana?’ Jadi in the end, seberapa sering gue bilang dan mengingatkan temen-temen gue, ‘Ok sekarang ini tempat biasa kita ya.’ Mereka masih selalu gak inget dan punya definisi masing-masing tentang tempat biasa ini.

Kesimpulan akhir gue, emang sulit ya jadiin satu tempat sebagai tempat biasa. Yang paling bisa itu, temen-temen nongkrong itulah yang membuat semuanya jadi terbiasa. Karena  setelah gue perhatikan, yang selalu sama dari tempat biasa itu adalah, lo selalu nongkrong dengan orang-orang terdekat lo. Jadi menurut gue, yang pas adalah saat biasa. Saat dimana lo bisa bersama-sama dengan yang lo sayang, bisa ketawa-ketawa, nangis-nangis, dan marah-marah, but in the end, bareng lagi dan bareng lagi. Lagyan, hari gini, tempat biasa juga bisa berarti di googlechat, YM, atau facebook ;)

Tapi sebagai perlambang dan romantisme, gue masih penasaran dan pengen punya tempat biasa gue. Kebayangnya seperti di film-film, kalau tiba-tiba gue menghilang, semua orang tau gue kemana, karena gue punya tempat biasa. Hehe.

Kalau kalian? Dimana tempat biasa kalian?