(hai temans, I will definitely use some of your name here :) )

Siapa nama kamu? Duh namanya siapa ya? Itu bukan sih yang namanya si Johny?

Urusan nama tidak bisa dianggap sepele. Kemanapun kita pergi, hanya itu yang bisa dibawa, nama. Nggak kena biaya bagasi, nggak perlu dijinjing, nggak makan tempat, walau kadang-kadang cukup berat. Contohnya ada salah satu teman. Nama belakangnya Suharto. Mantan bos gue ini terlihat mentereng karena sewaktu kuliah aja cuci celana dalem di tempat pencucian mahal dari Perancis itu. Walau sekarang susah diajak kumpul sepulang jam kantor karena dia lebih memilih mengejar kereta Jakarta-Bogor demi penghematan ongkos transportasi. Salah satu tugas utamanya selama hidup berkaitan dengan keberatan nama belakangnya itu, yaitu menjelaskan bahwa dia bukanlah keturunan Suharto yang itu. Kita sih percaya aja, walau sampai sekarang gue sudah ketemu dengan seluruh keluarganya kecuali Engkongnya. Hmmm…

Nama yang mirip juga suka membuat bingung orang terdekat. Gue jadi ingat masa-masa kuliah tingkat satu. Nama teman dekat gue adalah: Vinca, Piesca, dan Chika. Setiap gue bercerita tentang mereka sama Ibu gue, beliau hanya manggut-manggut walau gue yakin pasti upload di otaknya keliru. Misalnya gue bilang bahwa Vinca tuh ternyata tinggal satu kompleks dengan kami, didekat rumah guru Agama gue sewaktu SD. Nah besoknya, Piesca telepon gue. Dan nyokap gue dengan PDnya akan sok akrab, ‘Duh Piesca, ternyata tetangga ya? Kok jarang main?’ Piesca yang anak Jakarta kos di Bandung hanya bengong dan berusaha sopan. Dan kalau gue protes ke nyokap, beliau akan membela diri dengan bilang ‘Ya cari teman kok namanya mirip-mirip.’

Masih kasus nama mirip, ada juga cerita dengan dua sobat gue Chei dan Ei. Nama aslinya Chei adalah Sherria, dan nama aslinya Ei adalah Cherie. Kami bertiga satu SMA. Hmmm, gue dan Ei se-SD juga sih sebenernya. Hanya kami menjadi semakin dekat ketika masuk jadi baragajul SEF, sebuah unit gak penting gtu deh. Hihihi. Nah kalau ada teman SMA kami mau update tentang mereka, disinilah jadi kasus. Misalnya, ‘Eh si Chei tuh nikah yah? Sama anak arsitek juga kan?’. Gue menjawab, ‘Itu Ei, bukan Chei.’ Masih ngotot nanya lagi, ‘Si Cherie itu loh, yang mantannya XXXXX!’. ‘Iya dia dipanggilnya Ei, kalo Chei itu yang anak 2-6’ ‘Loh kok aneh sih?’ Lah yang aneh sapa? Hehehe. Pernah suatu waktu mereka menjadi tim debat yang super solid, ditambah sobat gue yang lain bernama Mala. Jadi Chei, Ei, dan Mala. Pada waktu itu, Mala ingin sekali mengganti nama jadi ‘i’. Jadi lucu kan timnya? Chei, Ei, dan i. Hehehe.

Kasus lain adalah dengan teman gue dari SMP, si Ando. Waktu itu belum jaman HP, jadi arus gosip dan ngobrol semua selalu lewat telepon rumah. Nenek gue masih suka angkat telepon. Gabungan antara nama unik dengan pendengaran seorang nenek-nenek bisa berubah menjadi name generator. Ngalah-ngalahin internet deh. Dulu gue titip sama beliau, kalau ada yang telepon dan gue nggak ada, tolong tulis di kertas dibalik pintu kamar gue. Setelah tuh kertas hampir penuh, gue baru menyadari nama Ando jarang tertulis dengan benar. Kadang jadi Ambo. Adu. Edo. Yantok. Anggo. Edu. Pandu. Dan pernah juga jadi Handuk. Maapin nenek gue ya, Ndo.

Dengan nama gue sendiri, kasusnya mudah ditebak. Nama yang cukup pasaran. Hehe. Makanya gue punya nama panggung, Duy. Sebelumnya, nama asli pasaran gue ini tidak pernah terlalu kentara karena tidak ada yang bernama sama di inner circle gue. Sampai ketika gue bekerja, dimana gue akhirnya bertemu dengan the other Dwi dan malah bertemen deket pula. Padahal dia tuh nama alter egonya banyak, tapi sialnya di kantor itu dia memakai nama Dwi. Jadilah kami sepakat bahwa nama Dwi tidak dipakai oleh siapapun. Jadi dia menjadi Dudu, dan gue jadi Dea untuk formal, dan Duy untuk informal. Yang ada inner circle kita malah jadi bingung membedakan panggilan satu suku kata kita, ‘Du’ dan ‘Duy’. Apalagi kalo manggil sambil kenceng. Sehingga beberapa memanjangkan nama gue menjadi ‘Nduy’, yang tepatnya dibaca ‘Enduy’, dengan ‘e’ seperti pada kata ‘enau’.

Anehnya, di khalayak ramai, nama ‘Dwi’ yang menurut gue cukup pasaran ini ternyata tidak terlalu pasaran. Masih ada seribu orang yang selalu salah menuliskan nama gue. Paling sering salahnya adalah menjadi ‘Dewi.’ Padahal gue coba hit di google, ‘Dwi’ keluar 11,400,000 kali, dan ‘Dewi’ cuma keluar 4,360,000 kali. Pada nggak main internet tuh orang-orang. Hehehe. Pernah ketika gue di HK, beberapa orang menulis nama gue dengan ‘Swi’. Jadi gue pikir, itulah nama gue versi China.

Baru-baru ini gue menyadari, jikapun nama pertama gue benar, entah kenapa orang-orang suka berimajinasi tentang nama kedua gue. Ketika gue ke Jogja kemarin, gue menginap di Hotel Santika, cukup mewah dong untuk bisa membaca nama gue di ID. Sesampainya dirumah, gue mendapati nama gue terukir manisnya di invoice: Dwi Rahardjo. Kisah di blog ini tadinya gak kepikiran untuk ditulis, sampai akhirnya ketika gue di Tarakan kemarin, menginap di Hotel Makmur, nama gue dengan indahnya menjadi Dwi Sulastri.

Hhhh.. Nama gue Dwi Lestari Rahardiani. Nice to meet you all!