Sepertinya sudah biasa kalau mendengar lagu, ‘Bila Sali mencariku.. Biarkan dia terbang jauh..‘ atau ‘Kamulah makhluk Tuhan.. yang paling seksi‘. Langsung terbayang sosok populer maha ganteng dan nan seksi berikut publisitas tingkat tinggi.
Tapi kalau Leaving on a Jetplane dengan cengkok sinden Jawa sekian sekian oktaf? Atau ‘tanjung peeraaakk.. tepi laut… siapa suuukaa.. boleh ikoooott…‘, yang jika dihitung frekuensi dan keabadiannya berhak membawa Waldjinah ke jajaran diva Indonesia dunia, dibandingkan dengan ketiga mbak-mbak penggemar biskuit kelapa itu? Sepertinya jarang diputar di televisi atau radio sekarang-sekarang ini ya?

Dalam rangka acara PNLH Walhi yang ke X kemarin, sebagai pendukung setia Yaya (Nurhidayati, red.) gue ikut serta muncul dalam rangkaian kegiatan itu. Bukan isu politisnya yang akan gue bahas, tapi penampilan orkes Sinten Remen yang dimotori oleh Djaduk Ferianto inilah yang menarik perhatian gue. Mereka membuka acara PNLH yang digelar di Pasar Seni Gabusan, Jl. Raya Parangtritis, Jogjakarta tengah April 2008 yang lalu.
Orkes Sinten Remen memboyong rombongan pemusik ala keroncongan tapi sudah kontemporer. Aransemennya handal, mulai dari sisi musik merubah rap Bebas milik Iwa K menjadi tembang Jawa cantik mendayu-dayu, sampai menggubah teks yang menyindir-nyindir para LSM yang kerjanya rapat melulu dan nggak kerja-kerja. Celetukan-celetukan Djaduk juga penuh satirisme, entah bermaksud mengingatkan atau hanya melempar kalimat-kalimat untuk membuat suasana menjadi meriah. Yang jelas, I am enjoying the music. Sudah lama tidak mendengar hiburan baru semacam itu. This is what I call music arrangement.
Pulang dari acara, gue jadi wondering dengan dunia pengamen di Jogjakarta. Dan tak lama kemudian, sambil makan gudeg lesehan super enak PERMATA di Jalan Gajah Mada, dimana ada setiap panci besar berisi setiap bagian ayam: mulai dari kaki, daging paha, dada, jeroan, kepala, suwiwi, tahu, krecek, dan segala jenis krupuk kampung super lezat. Eh ini gue cerita pengamen apa gudeg yah? Anyway this is one of the best gudeg lesehan I’ve ever had.
Kembali soal pengamen, berdatanglah lagi seperangkat tukang ngamen dibayar tunai. Maap kalo fotonya blur, namanya juga anak muda. Jadi gue pasang kecil aja ya fotonya.
Kali ini rombongan pengamen ada berempat. Dengan alat musik yang tidak bisa dianggap sepele juga. Semua lengkap sampai bawa partitur segala. Komposisi pengamen ini terdiri dari bapak-bapak yang sudah cukup tua, jadi nggak papa juga kalau kelayapan sampai lewat jam 11 malam karena memang ini tempat gudeg malam juga.
Dimulailah mereka menyanyi lagu-lagu Barat yang masuk jajaran top forty di ever green love song. You name it. How deep is your love? Yesterday. Tell Laura I Love Her. Dan beberapa lagu yang gue lewatkan karna terlalu asyik memilih kerupuk yang tepat untuk setiap suapan gue. Suara mereka, yah, tidak mengecewakan. Tapi yang jelas, music arranger lagi-lagi berperan disini. Semua lagu mereka mainkan dengan versi mereka sendiri. Digubah. Tidak asal gonjreng seperti anak muda di bus kota milik ibu kota.
Pengalaman dengan pengamen selanjutnya sayang tidak sempat gue abadikan. Tapi yang jelas statusnya sama. Selalu ketika gue makan gudeg.
Yang ketiga adalah ketika makan gudeg Mbarek di dekat kampus UGM. Gudeg ini bukan favorit gue, karena kering dan tidak banyak berkuah. Ini termasuk gudeg siang, jadi buka dari pagi sampai malam, tidak seperti si gudeg permata diatas. Tapi telornya enak juga karena pakai telor bebek.
Pengamen disini terdiri dari beberapa bapak dan seorang Ibu yang tampak lelah jadi menggelendot saja di tiang depan restoran. Walau demikian, suara tidak boleh diragukan. Dengan lantangnya, sang Ibu mengumandangkan rangkaian keroncong dan lagu Indonesia masa lampau tetap dengan cengkok Jawa yang semi menyinden. Para bapak setia memainkan berbagai jenis musik mengiringi dendang sang Ibu. Mungkin kalau pakai imajinasi, si Ibu ini yang terkena lampu sorot dan para bapak yang kena sorot cuma alat musiknya doang. Karena memang vokal Ibu ini mengalahkan segalanya. Beberapa lagu yang sempat gue ingat adalah ‘Uuusah kauu kenang lagiiii…. sayang… Bila hatiiimu tak suuukaaa…‘ dan juga yang agak kekinian ‘Pergi sajaaa…. dirimu pergi…. bilang sajaaaa… pada semuaaa…‘
Gudeg terakhir dihari-hari Jogja gue jatuh di lesehan malioboro. Gudeg malam juga. Menurut Aat, adiknya mbak Ery yang sekolah di Jogja dan diutus untuk ketemu gue (dan Bogel, serta Ijul harusnya) demi perbaikan gizi anak kos dan mahasiswa, lesehan yang enak adalah lesehan Terang Bulan yang terletak di depan tukang Batik Terang Bulan di sisi sebelah kiri kalau menuju Keraton.
Oh ya, trivia dulu dari Bogel: Kenapa trotoar di sisi sebelah kiri malioboro jauh lebih sepi dibandingkan sisi sebelah kanan? Kalau ada yang bisa jawab kabarin yah.
Gudeg disini tidak terlalu menggoda hati. Gudegnya pucat.
Bukan coklat menghitam seperti gudeg Jogja yang gue idam-idamkan. Nah disini pengamennya paling seru. Paling punya harga diri. Sepanjang ingatan gue ketika makan, pengamen biasanya nongkrong disuatu sudut sambil main. Dan kita bisa memberikan uang kapanpun kita mau. Mulailah sang pengamen ini bernyanyi. Komposisi: 2 orang dengan gitar biasa, gak aneh2. Lagunya cukup membuat tersenyum. Rangkaian Beatles serta sebuah lagu andalannya Bogel ‘Maybe’ yang cukup jadul itu. Wuih, semangat dong dia mo ngasih duit.
Nah ditengah-tengah kita makan, disaat ngobrol lagi seru-serunya ngomongin masa depan Aat dan Ijul yang workaholic, sang pengamen sempat bertanya ‘Mau lagu apa?’. Kita bilang, ‘Terserah aja, Pak.’ Then in the end, ketika kita mau kasih uang ke pengamen, guess what? DITOLAK DUITNYA! Sambil bilang, ‘Nggak usah deh mbak, ngobrol aja terus…’ Duuuhhhh. Situ ngambek??!!!
Jadi kepikiran, buat exchange program pengamen Jogjakarta dan pengamen Jakarta. Ada yang mau biayain?
April 28, 2008 at 8:34 am
saya mau gudeggggg…huhuuhu….
April 28, 2008 at 1:10 pm
duuuyyy… daku juga pengen ke jogja terus makan gudeeeeeeeeeeeeggg huaaaa…
April 29, 2008 at 8:14 am
noka, chika..
yuk gue anter ke Jogja yuk…
April 30, 2008 at 6:48 am
simple, semua pedagang kaki lima di malioboro ada di sebelah kanan
April 30, 2008 at 9:02 am
aahh duy suruduy, elo emang bobotoh gue yg setia, walopun gue kalah…hehehe…
kapan ya kita ke jogja yang dalam rangka bermain, bukan kerja? ;p
May 13, 2008 at 3:33 am
anonymous,
pedagang kaki lima ada juga loh yang disebelah kiri
yaya,
yuks yuks… travelling yukkssss…