Skip to content

going mail conventional

June 28, 2007

ist2_1260796_vector_postmark_stamps.jpg


Beberapa waktu lalu gue menonton film pendek hasil teman baru gue sang Editor dengan nasionalisme tinggi, Yuda Dye. Film pendek itu karyanya semasa dia masih berkuliah di Jogja sana. Topik yang diangkat gue rasa memang sangat tepat untuk diangkat segera, sebelum menghilang sempurna. Kantor pos dan segala aktifitasnya.

Hari geeneeee?? Ada email, HP, dan berbagai koneksi cepat kilat membuat semua rintangan halangan kelibas sehingga kita bisa langsung berhubungan dengan siapapun dimanapun. Koneksi dunia maya itu tidak melibatkan keribetan-keribetan cari alamat, kesandung kerikil sepeda pak pos, surat rusak, telat nyampe karena sedang cuti, dibalikin karena prangko kurang, nggak bisa diantar karena hari hujan, dan berbagai grenjulan-grenjulan lainnya. Dunia maya membuat kita mudah berhubungan dengan yang jauh-jauh untuk segala hal, say say hi, cerita kejadian kemaren, kasih tau pacar baru, kirim foto anak atau keponakan, ngobrol-ngobrol membahas masa lalu, kirim undangan, atau sampai kegiatan yang terlalu jauh sampai kadang-kadang gue ingin memperingatkan teman gue untuk mengenakan kondom pada laptopnya.

Kemudahan-kemudahan ini sayangnya tidak menguntungkan bagi beberapa pihak. Itu yang dibahas Yuda pada filmnya, betapa kantor pos-kantor pos terutama yang kecil sedang perlahan tutup dan gulung tikar demi tidak adanya pelanggan yang membutuhkan jasa mereka.

Gue agak heran dengan fenomena monopoli apalagi yang berhubungan dengan kekuasaan. Gue rasa ini adalah salah satu contohnya. Ketika dulu Pos Indo masih merajai dan memonopoli, dimana jasa pengiriman baru ada satu dua dan si dunia maya itu belum lahir, I don’t think that they give us good services. I dare to say that they were taking customers for granted since the customers had no choice. Lalu ketika saingannya mulai-mulai muncul, barulah bebenah. Sama halnya seperti Pertamina dan kemunculan Shell dan Petronas, serta 21 dan Blitz megaplex. Sayangnya yang dirugikan di Pos Indo tentunya adalah mereka-mereka yang nggak bisa ngapa-ngapain. Seperti bapak-bapak dan ibu-ibu penjaga dan pengantar pos, atau lebih lanjut lagi nyokap gue. Hehe. Kok bisa ya nyokap gue? Mari kita ke bapak-bapak dan ibu-ibu itu dulu.

Bekerja di kantor pos terutama bagian front officenya, tidak membutuhkan terlalu banyak skills. Lihat harga prangko yang tepat, catat sini catat sana, stempel pos, masukkan kardus, kirim! Bapak pengantar pos yang baik hati akan mengirimkan surat kita itu sampai ke tujuan dengan penuh peluh. I bet none capacity building was given to them. Lalu ketika mereka mulai seret-seret, pas umurnya udah banyak, mereka mau lari kemana dengan keterampilan seperti itu? Jasa-jasa pengiriman pasti lebih suka mempekerjakan mereka yang muda dan bergairah. Hiks. I wish ada firma seperti Cage and Fish di Indonesia yang bisa membela hak-hak para oddballs atau wackadoos, atau yang lebih simple kasusnya untuk pos-posan ini, sudah berumur.

Lalu, bagaimana nyokap gue bisa kena? As some of you might know, nyokap gue itu penjahit. She merely high school graduated, cant continue to medical school based on family reason, and now earned merely by sewing and yet able to put me and my brother to college. Whatta mom. Dan gue baru menyadari, dulu nyokap sering dapat order-order dari para penggede-penggede Pos Indo. Para dharma wanitanya itu sering sekali jahit baju untuk acara ini itu dan kalau lebaran gue suka diminta datang kerumah mereka untuk ngambilin makanan di parsel karena rumah gue rame orang tapi sepi parsel. Lalu sekarang? Para penggede-penggede itu sudah jarang muncul, emang lagi seret katanya. Jarang ada acara, berarti jarang pake baju baru. Bahkan agenda, kalender, notes, kaos-kaos juga sudah jarang berseliweran. Penggede-penggede aja pada begitu, gimana yang bawah-bawah?

Anyway, moral of this story.. yuk kita going conventional again by sending conventional mails. Nggak usah sok idealis semua surat kita balik ke konvensional.. ribet boooo.. hare geneee?? Tapi, boleh lah sekali dua kali kita kirim surat pake tulisan tangan. Mengejutkan teman yang jauh disana atau justru temen yang ketemu sehari-hari, sambil kasih kerjaan lagi ke bapak ibu pos. Gimana?

4 Comments leave one →
  1. June 28, 2007 8:34 am

    Hidup Yudhaaa…. dengan idealisme dan film hitam putihnya…!!! yuk buat film hitam putih durasi 2 menit

  2. June 28, 2007 1:13 pm

    Jasa pos… hmmm… masih sih. Tapi jarang :) Paling kalo ada dokumen yang harus dikirim baru deh pake jasa pos. Paket ga bisa masuk email soalnya :P Kekekkeke….

  3. June 30, 2007 11:29 am

    hi duy….gue setuju kita balik ke conventional mail…
    kenapa? soalnya segala email dan sms itu menghilangkan ‘kemanusiaan’ kita…cieeehhh…

    bayangin, ngirim ucapan lebaran yg dicopy-paste…nggak ada rasanya kan? dingin-dingin aja..nulis surat itu juga nunjukin attention kita krn kan kita musti allocate waktu buat itu…

    gue jadi inget dulu jaman smp-sma punya sahabat pena dari luar negeri…setiap terima surat dari dia senengnya minta ampun…

    yuk kita surat-suratan duy…alamat surat elo apa ya? ;p

  4. July 10, 2007 10:15 am

    menurutku penggunaan pos itu punya rasa sentimentil lho… ada nilai perjuangan untuk menulis (tangan, melipat dan mengirimkannya… bahkan surat cinta yang ditulis di surat bisa jadi ‘lebih berharga’ daripada sekedar e-mail hehehehe… yah, tapi untuk alasan praktis, gak bisa semuanya pake pos lah ya…

    eh duy, kalo surat2an kita di kelas waktu SMU dulu kan kagak lewat pos tuh… ‘bernilai’ juga kah? hehehehe…

    btw… duy nulis:
    … Kantor pos dan segala aktifitasnya…

    setauku, yang bener itu Aktivitas, dan bukan aktifitas… CMIIW yah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.