ratu sepeucang
Bagaimana rasanya jadi raja sehari? Punya kapal dan pulau serta guide dan guide-guide baik hati yang siap menyediakan segalanya sehingga kita tinggal nganga dan menikmati semua yang indah-indah? I did have that much of luxury on last weekend 8-10 june while embarging to Peucang Island for truly and deliberately vacation.
Semuanya bermula dari iklan-iklan yang disebarkan oleh Explore Indonesia yang menawarkan paket-paket liburan eksotis nan seru. Akhirnya ada satu yang pas secara waktu dan acara dan insyaAllah pas secara uang. Pergilah kita mencoba mengadu nasib ke Ujung Kulon tepatnya di Pulau Peucang selama 3 malam dan 2 siang.
Warna pantai yang sering gue lihat di kartu pos akhirnya gue lihat sendiri. Warna air laut yang sesuai dengan warna pasir dibawahnya karena begitu begitu jernih. Kelihatan sekali gradasi air lautnya yang membuat laut jadi kelihatan punya banyak warna. Sisi negatifnya adalah ketika gue tidak bisa membuat foto berenang dengan efek berenang ditengah laut. Karena gue yang kemampuan dan keberanian berenang dilaut rendah ini hanya mau berenang di bibir pantai. Yang ada background foto gue semuanya air laut dengan dasar yang putih bersih, sesuai dengan warna pasir pantainya yang emang putih bersih. Gagal deh pake efek daleumm. Hehe.
Masih tentang pantai, serunya lagi, pantai Peucang seperti terbelah dua. Kearah kanan bersih sekali jernih tidak ada spot kerang apapun. Kadang gue merasa seperti melihat kertas plano yang suka dipakai buat seminar. Hehe. Bersih sekali. Enak banget guling-gulingan disitu. Pasirnya pun halus banget jadi kalau menjejakkan kaki langsung mlesek deh tuh pasir. Eh apa gara-gara gue gendut ya? Sementara jika belok kiri, akan ada kerang-kerang cantik banyak lucu-lucu yang menghiasi bibir pantai itu. Buat jalan juga enak serasa lagi pijet refleksi. Yang jelas, baik di kanan maupun di kiri, masih banyak ikan-ikan kecil yang berenang yang jumlahnya buanyak buanget. Yang sering gue lihat kalau nonton discovery channel ada geng ikan rame-rame berenang lenggak lenggok kesana kemari, nah itu bisa ditemukan dengan mudah di pinggir pantai.
Pulau Peucang adalah satu diantara sekian ribu pulau yang belum terlistriki. Mereka masih dibantu oleh diesel dan untuk air panas ada water heater. Sedih sekali mengetahui mereka perlu 100 liter minyak hanya untuk menghidupkan dua kamar dalam satu bungalow mereka, mana harga minyaknya sampai 6000 perak. Ahh, coba ada penelitian tentang energi alternatif dari tahi rusa, pasti Pulau Peucang bisa terang benderang. Kenapa demikian? Karena pada lapangan yang luas buanget didepan dermaga, ada berjuta-juta benda yang gue duga batu kecil-kecil pada mulanya. Ternyata setelah diperhatikan dengan seksama itu adalah tahi rusa! Banyak sekali dan bahkan sudah membuat koloni-koloni sepertinya. Namun jangan khawatir sedikitpun, udara segar dan natural bisa membawa bau-bau tak sedap dan menggantinya jadi bau alami. Hmmm..
Di pulau itu, kita yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan para binatang. Setelah para binatang berusaha beradaptasi dengan manusia sekarang kebalikannya. Gue harus cukup puas bahwa tikus yang menggerogoti tas ketika di dalam kamar hanya berhasil membuat lubang kecil. Maklum namanya juga tikus hutan, belum kenal lem tikus maupun mouse trap. Namun sebagai gantinya gue ketemu sama kunang-kunang yang sempet dikira Susy sang sarjana elektro sebagai sebuah sirkuit listrik pendek dari AC. Maklum, anak kota udah lama banget nggak ketemu kunang-kunang. Selain benda-benda kecil itu, seribu juta rusa, monyet, biawak juga bisa diketemukan dengan mudah disana. Malam haripun katanya babi rusa suka keluar di lapangan itu. Jika belum puas, ajak mas guide untuk nyebrang ke ujung pulau jawa dan melihat stepa luas yang berisi banteng-banteng dan burung merak berlari-lari kesana kemari. Burung merak jantan yang sayangnya tidak menunjukkan kecantikan buntutnya bahkan setelah Bogel menggoyang-goyangkan pantatnya ala menggoda.
Sang kapal siap menunggu kita untuk berkelana wisata air. Jika lo mencari spot-spot untuk snorkeling, inilah surganya. Mungkin bukan yang terbaik dibandingkan dengan Derawan atau Bunaken, namun cantik sudah kehidupan istana bawah tanah disini. Gue saja memberanikan diri untuk ikut snorkeling dengan pakai life vest dan pegang tangan si mas guide. Sementara Bogel dan Susy asyik mancing di laut sambil berharap-harap cemas ada ikan yang sudi mampir ke kail mereka.
Angin kencang juga jadi salah satu cirinya. Kita harus pegang erat-erat segala yang ringan dan nggak nempel ke tanah. Terutama krupuk sebagai pelengkap masakan yang juga dimasakin dengan enak padahal peralatan minim oleh para guide yang baik.
Pulau Peucang pas banget untuk jadi hideaways. Jarak perjalanan 5-6 jam darat dan 3 jam boat kecil saja langsung bisa tiba di tujuan. Ditambah naik perahu dayung atau kano sebentar untuk naik ke boat membuat perjalanannya jadi tambah seru. Suasananya sepi banget. Udah lama gue nggak berada didalam keadaan dimana lihat kanan kiri belum tentu ada orang lain. Sepertinya kalau berlama-lama disitu, baik di pinggiran pantai maupun berteduh pakai hammock dibawah naungan pohon-pohon besar rindang gue bisa mendadak menulis 5 novel sekaligus. Hehe. Ngareppp.





Wakwaw… Pengen liburan gw!
coba info selengkapnya (kontak, harga dll) dikirimkan daripada imel saya begituh?… makasih duy …
*ngelap iler…
yg pertama duy, nape rambut lu jadi jigrik begitcu??
yg kedua…ehmmm…jadi bener nih man included in the package? ;p
nice info