Skip to content

indomienya dua ya..

May 7, 2007

ist2_1546016_guy_and_waitress.jpg

Gue tidak pernah menduga cara memesan teh tawar akan menjadi begitu menyulitkan ketika gue berada di Aceh. Beberapa pilihan kata berikut sudah gue pergunakan:

‘Pesan teh tawar ya’
‘Pesan teh pahit ya’
‘Pesan teh tidak pakai gula ya’
‘Pesan teh jangan pakai gula ya’
‘Pesan teh panas saja, jangan pakai gula ya’

Dan semuanya selalu keluar dengan teh manis. Baik sangat manis, manis sedang, maupun manis sedikit yang dilengkapi dengan alasan, ‘Kalau nggak pakai gula nanti tidak enak, Kak’. Dalam hati gue, ‘Lo yang enak apa gue yang enak?’

Memang jika diperhatikan orang-orang di Aceh ini justru terlalu memikirkan perasaan kita dengan menempatkan diri mereka diposisi kita. Atau kata lainnya, menganggap selera kita adalah sama dengan selera mereka. Jadi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera mereka, itu adalah kekeliruan yang harus diluruskan.

Kasus lainnya lagi adalah ketika gue pesan nasi. Tidak bermaksud diet atau apapun, kalau urusan nasi, gue memang selalu makan sedikit nasi. Besar lauk daripada nasi. Mungkin begitu peribahasa yang berlaku. Pesanlah gue selalu nasi sedikit jika sedang makan di Aceh. Lalu selalu datanglah nasi sejimbun-jimbun disertai dengan alasan, ‘Nanti masih lapar, Kak’.

Tapi semuanya itu tidak sedahsyat kejadian di kedai indomie ketika beberapa orang teman gue nongkrong di kedai kopi kecil di Lhok Bubon, Samatiga, Aceh Barat. Seorang ibu-ibu paruh baya yang baik hati tampak siap sedia menyambut kedatangan mereka dan mungkin terkejut juga karena jarang kedatangan sebegitu banyak tamu. Sebenarnya tidak banyak sih, hanya sekitar 5 orang.

Pertama datanglah si Rudy dan Yuda. Rudy bertanya sama Yuda, ‘Mau indomie?’. Setelah Yuda mengiyakan, Rudy memesanlah kepada si Ibu Kedai, ‘Indomie-nya dua ya bu.’ Lalu si Ibu bertanya lagi, ‘Ini indomie pakai mangkuk atau pakai piring?’ Bingunglah mereka. Apa bedanya ya? Si ibu pun tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata yang tepat. Akhirnya dengan menebak-nebak asal mereka pun memilih memakai mangkuk.

Akhirnya sang indomie datang. Yak betul sih 2, tapi ternyata 2 indomie untuk satu orang. Jadi total ada 4 indomie termasak. Walau dengan berbengong-bengong hati mereka tetep makan Indomie itu. Setelah melihat kanan kiri, mereka bisa sedikit menyimpulkan bahwa kalau indomie pakai mangkuk itu artinya indomie yang dimasak biasa. Sedangkan kalau pakai piring artinya indomie itu akan dimasak ulang dengan menggunakan bumbu-bumbu khas Aceh.

Lalu datanglah satu orang teman lagi, Alol kalau nggak salah. Alol melihat ada banyak indomie (dan setelah diceritakan perbedaan antara mangkuk dan piring) memutuskan untuk ikut makan mie jadi dia minta piring kosong aja satu. ‘Bu, bisa minta piring kosong?’ Tak dinyana si Ibu berkata, ‘Tidak ada piring disini, kami makan pakai mangkuk. Kami kan pengungsi jadi tidak punya piring’. Lho?? Padahal didekat situ jelas-jelas terlihat ada piring dan si Ibu pun kan sebelumnya menawarkan pakai piring?

Lalu datang lagi si Rubby. Dia pesan indomie pakai telor. Asumsinya, jika indomie pakai telor, maka telor akan dimasak. Tapi ternyata salah. Indomie datang lengkap dengan telor. Telor bulat. Rubby berpikir, ‘Oh telornya direbus’. Dengan asyiknya dia memecah telor itu dan PLUK. Telornya tumpah. Ternyata telurnya masih mentah sodara-sodara. Ketika ditanyakan kembali ke si Ibu, beliau hanya menjawab manis yang kira-kira terjemahannya begini, ‘Lho, kan tadi katanya indomie pakai telor, kamu nggak bilang telornya harus matang kan?’

7 Comments leave one →
  1. May 8, 2007 6:13 am

    pengalaman gue, memang kalau bicara dengan masyarakat yg tidak menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa sehari-hari, itu musti eksplisit.

    coba elo pesen tehnya begini,”pesan teh tidak pakai gula karena saya tidak suka manis”

    sama aja dengan mereka sebenernya kita juga make’ standar kita ke mereka..contohnya temen elo dan telornya itu hehhehe..

  2. Noka permalink
    May 8, 2007 10:44 am

    huahahaha….
    indomie dengan telor mentah, huahahhaha….
    kirain tempat gue sekarang udah aneh :-P

  3. May 9, 2007 5:10 am

    yah gue kalo urusan makanan emang kudu detailll… hehehhe

  4. July 20, 2007 5:26 pm

    Pernah ke Aceh ya?

    aku juga pengen euy…

    (keadaan di sana gmn yah? separah/lebih parah dari Lusi/Lumpur Lapindo?)

  5. July 24, 2007 4:02 pm

    Hendy,

    Ayo nanti rame-rame kesana. Hehe. Gue ke Aceh waktu Aceh sudah lumayan settle, well, dibandingkan waktu habis disaster dulu ya kalo gue liat dari foto2nya. Kalo harus pick the lesser evil sih waktu itu Aceh lebih parah dari si Lusi… :( Yang jelas dua2nya devastating banget ya??

  6. aso lhok permalink
    August 23, 2007 4:18 am

    anda penulis atau pengarang, kok bisa2nya begitu, emang orang aceh bodoh, lo aja yang goblok

Trackbacks

  1. Efek Mi Instan bagi Kesehatan - Hendy Irawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.