June 27, 2008
Ingat masa pakai telepon umum? Bahan bakarnya bisa koin atau kartu. Ya emang masa hipnya telepon umum sudah sekitar beberapa tahun cahaya yang lalu. Waktu lagi kondang-kondangnya, ada banyak jenis telepon umum. Ada telepon umum warna biru yang cuma bisa dimasukin koin 100 perak yang besar (waktu belum keluar koin kuning), lalu muncul telepon yang oranye, dan ada juga telepon kartu yang biasanya gambar perlambang Indonesia. Either sebuah Pura di Bali atau mbak-mbak sedang menari. Trus kartu telepon ini kalau sudah dipakai ditandai dengan lubang-lubang. Cheatnya adalah menutup lubang-lubang itu dengan tip-ex!! Jadi nggak pernah habis deh kartu telepon gue J
Nah, karena memang gue telat dalam mempunyai telepon genggam dan pemakaian telepon rumah juga dibatasi, namunn tidak terlalu telat untuk memulai karir bergunjing dan iseng. Jadilah telepon umum sebagai sahabat sejatiku. Sahabat sejati kedua gue adalah uang koin, tentunya. Kalau tip-ex di kartu telepon udah terlalu tebel dan nggak terlalu berfungsi lagi.
Kisah gue dengan telepon umum bermula ketika santer berita tentang telepon hantu. Jadi rumor yang beredar menyebutkan bahwa jika kamu menelepon ke nomor sekian sekian, maka nanti yang angkat adalah hantu. Waktu itu gue masih SD atau SMP gtu deh, dan info ini gue telan bulat-bulat. Padahal kan kalo dipikirin sekarang, itu informasi gak akurat banget. Tau darimana yang ngangkat hantu? Emang hantu bisa angkat telepon? Bukannya kudunya tembus? Trus kalo udah nelpon dan diangkat, lo mo bilang apa? Halo mas/mbak hantu? Tapi secara gue deliberately ce es sama temen-temen gue, gue kumpulkanlah semua koin yang gue punya dan mencoba telepon ke nomor itu.
‘Halo, ini siapa?’
‘Ini Yanti.’ Kata yang diujung sana.
Klik gue langsung matiin teleponnya. Sambil teriak ketakutan ke temen-temen gue. ‘Hiiyyy, nama hantunya Yanti.’ So what ya padahal?
Terus gue telpon lagi dan mengajukan sejuta pertanyaan gak penting.
‘Ini hantu bukan?’
‘Hantu kok suaranya gini ya?’
‘Mbak udah mati?’
‘Mbak nggak takut?’
Sama hantu aja gue sopan ya, manggil mbak. Dan begitulah gue clicking through the phones on and off sampai semua koin gue habis. Oh ya, gue melakukan ini sambil menutup barisan antrian sejuta ibu-ibu dan mas-mas yang mungkin mau nelpon pacarnya. Maap ya. Gue masih gelep urusan etika waktu itu. Hihihi.
Selanjutnya adalah dengan obrolan yang menggantung, terkait dengan jumlah koin yang tersedia dan bahan obrolan. Salah satu profesi lain gue waktu itu adalah menjadi detektif. Mencoba mereka-reka apakah pacarnya temen gue selingkuh apa nggak, atau apakah cokiber (cowok kita bersama) itu sudah punya pacar atau belum. Situ pikir ide Playboy Kabel genuine? Maaf yak.
Sebenarnya telepon rumah sudah mulai nyambung waktu itu. Karena gue inget gue udah pake seragam either putih biru. Lalu meneleponlah gue (dengan masih settingan dibelakang adalah beberapa temen gue yang sok tegang sambil siap cekikikan) dan minta disambungkan dengan si Yoga (*nama samaran*), sang cokiber itu.
‘Hai Yoga apa kabar?’
‘Baik, ini siapa ya?’
‘Ini Cindy.’ (nama samaran juga dong)
Terus bla bla bla basa basi kesana kesini. Sambil cemplang cemplung masukin koin terus.
‘Kamu udah punya pacar belum sih?’ (pertanyaan standar dalam selidik menyelidik)
‘Pacar? Waktu itu….’
Putus lah teleponnya karena koin sedikit dan tadi kelamaan foreplay. Semua kantong udah dirogoh demi mencari sekeping dua keping koin yang tak kunjung ketemu. Akhirnya kami garing menyambung nyambung sendiri kira-kira apa yah maksud Yoga dengan kalimat ‘Waktu itu…’. Waktu itu udah punya tapi sekarang udah putus? Waktu itu gue belum boleh pacaran? Waktu itu gue ciuman tapi gak pacaran? Waktu itu gue naksir tapi terus ditolak? Waduuhh… Gantuunggg…
Yang terakhir adalah telepon dan radio. Waktu itu radio favorit gue namanya adalah Oz 103 FM Bandung. Entah ya sekarang udah geser ke frekuensi berapa lagi. Gue nggak tau apakah memang ada zamannya atau sampai sekarang masih berlaku, tapi pada masa SMP dan SMA itu radio berperan sangat penting buat gue. Eksis didunia radio, termasuk tahu nama-nama penyiar, apal lirik lagu, apalagi bisa kenal sama penyiar itu menurut gue adalah sesuatu yang pantas dapat bintang. Termasuk juga menyebutkan dan disebutkan namanya pas acara request show. Gila ya peer pressure itu
Kadang kita janjian sama teman-teman sendiri, untuk saling mengirimkan lagu biar kesannya kondang banget semua orang kenal sama kita. Jadi gue ambil sepedahlah setiap sore ke telepon umum terdekat untuk menelepon, karena teleponnya susah kalau cuma sekali, dan kalau telepon berkali-kali pasti babe gue melotot.
Dukanya kalo begini adalah, seringnya gue nggak sempet denger rekuesan gue dibacain. Karna begitu keluar pake sepeda, nyokap langsung menyalakan mode NITIP. ‘Nduk, mau keluar ya? Titip terigu dong.’ Dan ketika nitip maka ada unsur belanja belum lagi antri. Ditambah ketemu dengan ibu-ibu tetangga lainnya yang curi-curi rumpi. Akhirnya ketika pulang, masang kuping di radio, tuh rekues udah kelewat deh…












Kembali soal pengamen, berdatanglah lagi seperangkat tukang ngamen dibayar tunai. Maap kalo fotonya blur, namanya juga anak muda. Jadi gue pasang kecil aja ya fotonya.
Bukan coklat menghitam seperti gudeg Jogja yang gue idam-idamkan. Nah disini pengamennya paling seru. Paling punya harga diri. Sepanjang ingatan gue ketika makan, pengamen biasanya nongkrong disuatu sudut sambil main. Dan kita bisa memberikan uang kapanpun kita mau. Mulailah sang pengamen ini bernyanyi. Komposisi: 2 orang dengan gitar biasa, gak aneh2. Lagunya cukup membuat tersenyum. Rangkaian Beatles serta sebuah lagu andalannya Bogel ‘Maybe’ yang cukup jadul itu. Wuih, semangat dong dia mo ngasih duit.







